SELAMAT DATANG DI WEBSITE BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN SOEKARNO HATTA --- PIMPINAN & STAF BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN SOEKARNO HATTA MENOLAK SUAP, PUNGLI & GRATIFIKASI DALAM BENTUK APAPUN -- "Bersama Anda Melindungi Negeri"

Deteksi Brucellosis pada Sapi Perah Impor Selama Proses Karantina Hewan untuk Mencegah Penularan Penyakit ke Manusia Featured

08 July 2019 by Artikel BBKP Soetta 56 Views

Deteksi Brucellosis pada Sapi Perah Impor Selama Proses Karantina Hewan untuk

Mencegah Penularan Penyakit ke Manusia

1Khariri, 2Ambar Retnowati, 2Yuswandi

1Pusat Penelitian dan Pengembangan Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan

2Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta

Corresponding author : arieThis email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

Abstrak: Brucellosis merupakan penyakit yang bersifat zoonotic dan disebabkan oleh bakteri Brucella sp. Penyakit ini merupakan salah satu penyakit menular yang telah menyebar di seluruh dunia. Brucellosis masih menjadi penyakit endemis di Indonesia dengan prevalensi yang bervariasi di berbagai daerah. Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan bahwa sebanyak

 

500.000  kasus  brucellosis  baru  muncul  setiap  tahun  sehingga  dianggap  sebagai  penyakit zoonosis yang paling sering terjadi di dunia. Penularan pada manusia terjadi terutama melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, minum susu dari hewan terinfeksi dan menghirup udara  yang tercemar oleh  bakteri  penyebab  bruselosis.  Data  yang digunakan  untuk  analisis adalah laporan pemasukan dan tindakan karantina terhadap bibit sapi impor asal Australia yang diimpor melalui Bandara Internasional Soekarno Hatta. Tindakan karantina terhadap 200 bibit sapi perah impor jenis Frisian Holstein (FH) dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2018 sampai 15

November   2018.   Berdasarkan   Certificate   Health   to   Accompany   Animals   or   Animal

Reproductive, seluruh sapi telah divaksinasi dengan Infectious bovine rhinotracheitis (IBR) dan bovine viral diarrhea (BVD). Pada pemeriksaan terhadap brucellosis dengan metode rose bengal test (RBT) didapatkan 3 sampel yang positif sehingga pemeriksaan dilanjutkan dengan metode complement  fixation  test  (CFT).  Pada  pemeriksaan  CFT  semua  sampel  menunjukkan  hasil negatif. Pengawasan dan pemeriksaan bibit sapi perah impor terhadap brucellosis sangat penting untuk dilakukan dalam rangka mengantisipasi kemungkinan masuk dan tersebarnya penyakit tersebut dari luar negeri. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Hewan di pintu-pintu masuk harus melakukan pengawasan, pemeriksaan dan tindakan karantina terhadap lalu lintas hewan dan produk olahannya yang dapat berperan sebagai sumber penularan zoonosis.

Kata kunci: brucellosis, CFT, RBT, sapi, zoonosis.

Abstract: Brucellosis is a zoonotic disease and is caused by the bacterium Brucella sp. This disease is one of the infectious diseases that has spread throughout the world. Brucellosis is still an endemic disease in Indonesia with varying prevalence in various regions. The World Health Organization (WHO) estimates that as many as 500,000 new cases of brucellosis appear every year so that it is considered the most common zoonotic disease in the world. Transmission to humans occurs mainly through direct contact with infected animals, drinking milk from infected animals and breathing air contaminated by bacteria that cause brucellosis. The data used for the analysis is a report on income and quarantine actions on imported Australian cattle imported through Soekarno Hatta International Airport. Quarantine measures for 200 Frisian Holstein (FH) imported dairy cows were carried out on October 16, 2018 to November 15, 2018. Based

 

on the Certificate of Health to Accompany Animals or Animal Reproductive, all cows were vaccinated with Infectious bovine rhinotracheitis (IBR) and bovine viral diarrhea (BVD). On examination of brucellosis with the rose bengal test (RBT) method 3 positive samples were obtained so that the examination was continued with the complement fixation test (CFT) method. On  CFT  examination  all  samples  showed  negative  results.  Supervision  and  inspection  of imported dairy cows against brucellosis is very important in order to anticipate the possibility of entry and spread of the disease from abroad. Animal Quarantine Technical Implementation Unit (UPT) at the entrances must carry out supervision, inspection and quarantine actions on the traffic  of  animals  and  their  processed  products  which  can  act  as  a  source  of  zoonotic transmission.

Keywords: brucellosis, CFT, RBT, cattle, zoonosis.

PENDAHULUAN

Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Brucella sp. Bakteri ini merupakan mikroorgnisme intraseluler dan bersifat zoonosis. Infeksi pada hewan dapat mengakibatkan gangguan reproduksi, seperti infertilitas, abortus, orchitis, dan epididymistis.1,2

Penyakit brucellosis pada manusia ditandai dengan adanya gejala-gejala seperti kelemahan, demam intermiten, menggigil, berkeringat, sakit pada persendian, sakit kepala, dan sakit seluruh tubuh. Menurut jenis induk semang spesifik, Brucella pada dapat dikelompokkan menjadi Brucella abortus (sapi), B. canis (anjing), B. melitensis (kambing), B. neomatae (rodentia), B. ovis (domba), dan  B. suis (babi).3  Penularan pada manusia terjadi  terutama melalui kontak langsung dengan hewan terinfeksi, minum susu dari hewan terinfeksi dan menghirup udara yang tercemar oleh bakteri penyebab bruselosis.1

Brucellosis  merupakan  salah  satu  penyakit  menular  yang  telah  menyebar  di  seluruh dunia. Penyakit ini telah dapat diberantas di negara-negara Skandinavia, sedangkan di negara- negara Eropa lainnya,  Amerika Utara dan Australia kejadiannya sudah  sangat menurun.  Di negara-negara Asia kejadian rata-rata penyakit hanya beberapa persen saja, tetapi di tempat- tempat tertentu kejadiannya dapat mencapai 50-60%.  Penyakit ini masih endemis di Indonesia

dengan prevalensi yang bervariasi di berbagai daerah.4  Masih terdapat beberapa provinsi di

Indonesia  yang belum  bebas  brucellosis  pada  hewan  yaitu  Riau, Sumatera  Barat,  Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Bangka Belitung, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur   dan   seluruh   provinsi   di   pulau   Kalimantan.5 Badan   Kesehatan   Dunia   (WHO) memperkirakan bahwa sebanyak 500.000 kasus brucellosis baru muncul setiap tahun sehingga dianggap sebagai penyakit zoonosis yang paling sering terjadi di dunia.6

 

Ketersediaan produk susu perlu mendapat perhatian yang serius baik kuantitas maupun kualitasnya.   Perhatian   pemerintah   terhadap   hal   ini   diimplementasikan   melalui   program ketahanan pangan, agar masyarakat memperoleh pangan seperti susu dalam jumlah yang cukup, aman, bergizi, sehat, dan halal untuk dikonsumsi.7  Sampai saat ini, produksi susu dalam negeri belum mampu memenuhi semua kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga membutuhkan kegiatan importasi. Keamanan hewan dan produk asal hewan merupakan persyaratan mutlak yang tidak dapat ditawar lagi.8

Peranan dan fungsi karantina pertanian dalam era globalisasi dan perdagangan bebas saat ini sangat penting dan strategis dalam perdagangan dunia.9  Badan Karantina Pertanian menjadi benteng terdepan dalam mencegah masuknya hama penyakit hewan karantina (HPHK) dari luar negeri ke dalam negeri. Pada kegiatan importasi hewan dan produk hewan, Badan Karantina Pertanian  berperan  dalam  melindungi  negara  dari  ancaman  HPHK  agar  tetap  bebas  dari penyakit-penyakit yang belum ada di negara Indonesia. Tindakan karantina hewan atau produk yang didatangkan dari luar negeri sebagai wujud pencegahan terhadap masuknya HPHK dari luar negeri ke dalam negeri.10

BAHAN DAN METODEMetode

Tindakan karantina terhadap 200 bibit sapi perah impor jenis Frisian Holstein (FH) milik PT Agrijaya Prima Sukses dilakukan pada tanggal 16 Oktober 2018 sampai 15 November 2018. Kegiatan karantina ini dilakukan di Bandara Internasional Soekarno Hatta dan instalasi karantina hewan milik PT Agrijaya Prima Sukses. Berdasarkan Certificate Health to Accompany Animals or Animal Reproductive, seluruh sapi telah divaksinasi dengan Infectious bovine rhinotracheitis (IBR) dan bovine viral diarrhea (BVD).

Sapi yang datang dari luar negeri dimasukkan ke dan instalasi karantina hewan. Selama proses karantina, hewan akan diobservasi serta dikontrol pemberian hijauan dan air minum. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan kesehatan dan pengobatan untuk hewan yang sakit atau luka serta pengambilan spesimen. Spesimen yang diambil adalah darah sebanyak 10 ml dan feses. Pemeriksaan  laboratorium  terhadap  specimen  untuk  deteksi  brucellosis  dilakukan  dengan metode rose bengal test (RBT). Apabila didapatkan hasil yang positif pemeriksaan dilanjutkan dengan  metode  complement  fixation  test  (CFT).  Apabila  tidak  ditemukan  adanya  gejala

 

brucellosis berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, maka diberikan sertifikasi pelepasan karantina hewan oleh dokter hewan karantina.

HASIL

Sapi perah impor diangkut langsung dari Australia tanpa transit terlebih dahulu dengan menggunakan maskapai penerbangan. Pada saat datang, pemeriksaan kondisi hewan dilakukan di atas alat angkut oleh dokter hewan karantina dan paramedik karantina. Pemeriksaan fisik dilakukan  untuk  memastikan  kondisi  hewan  dalam  kondisi  sehat.  Selain  itu  juga dilakukan pengecekan terhadap jumlah hewan dan nomor ear tag. Wawancara dengan pilot dan awak pesawat juga dilakukan untuk mengetahui informasi lain saat perjalanan berlangsung terkait kondisi dan kesehatan hewan, untuk selanjutnya dilakukan verifikasi dokumen. Setelah semua pemeriksaan selesai  dan  fisik  hewan  sesuai  dengan  dokumen, maka diterbitkan  Persetujuan Bongkar Pada hari yang sama, sapi diangkut ke instalasi karantina hewan menggunakan truk.

Di tempat karantina, semua hewan dilakukan pengamatan dan observasi, pemeriksaan fisik hewan, dan pengecekan ketersediaan pakan dan air minum. Selama masa karantina, kondisi kesehatan hewan secara umum baik dan tidak ditemukan hewan yang menunjukkan gejala sakit atau kematian. Hal ini ditandai dengan nafsu makan yang baik, gerakannya lincah, tidak ada yang  memperlihatkan  gejala diare.  Perlakuan  selanjutnya  adalah pengambilan sampel  darah sebanyak 2,5 (triplo) dan feses secukupnya. Pemeriksaan specimen dilakukan di Balai Penelitian Veteriner Kementerian Pertanian Bogor. Pada pemeriksaan terhadap brucellosis dengan metode rose bengal test (RBT) didapatkan 3 sampel yang positif sehingga pemeriksaan dilanjutkan dengan metode complement fixation test (CFT). Pada pemeriksaan CFT semua sampel menunjukkan hasil negatif.

PEMBAHASAN

Berbagai  metode  pemeriksaan  telah  dikembangkan  untuk  deteksi  brucellosis selain mengamati gejala klinis yang muncul. Deteksi brucellosis biasanya dilakukan dengan metode serologi  untuk  mendeteksi  antibodi  spesifik  terhadap  antigen  dinding  sel  bakteri  Brucella tertentu. Berdasarkan Kepmentan No. 828/Kpts/OT.210/10/98 tentang Pedoman Pemberantasan Penyakit Hewan Keluron Menular (Brucellosis) pada Ternak, untuk kepentingan pengamatan penyakit secara serologis dilakukan pengujian dengan metode RBT, MRT dan CFT serta metode

 

lain yang dapat ditetapkan oleh Direktur Jenderal Peternakan.11  Dua diantara cara pemeriksaan serologi yang digunakan untuk pemeriksaan brucellosis terhadap sampel sapi perah impor ini adalah  metode  rose  bengal  test  (RBT)  dan  complement  fixation  test  (CFT).  Pemeriksaan serologis dapat dilakukan pada hewan sebagai pengujian awal. Isolasi B.abortus pada sapi dilakukan dengan mengirimkan cairan, membran fetus, susu, kelenjar limfe supramamaria dalam keadaan segar dan dingin ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan.12

Rose Bengal test (RBT) merupakan metode pemeriksaan cepat yang umum digunakan

untuk mendeteksi bakteri Brucella. Metode ini mudah, sederhana dan praktis untuk dilakukan. Pemeriksaan ini menggunakan prinsip dari kemampuan antibodi IgM dalam mengikat antigen dalam serum. Metode ini merupakan pengujian dengan menggunakan cara aglutinasi dengan mereaksikan antigen dan antibodi, setiap aglutinasi yang terbentuk menandakan reaksi positing. Pemeriksaan dengan metode ini dapat dilakukan untuk uji skrining yang sangat baik, namun juga sangat sensitif untuk deteksi pada hewan  yang divaksinasi. Hasil pemeriksaan dapat dilihat dalam waktu yang cukup singkat sekitar 5 menit. Hasil pemeriksaan RBT masih memerlukan

konfirmasi dengan pemeriksaan CFT karena spesifisitasnya yang rendah.13,14

Metode CFT merupakan uji serologis yang memungkinkan mendeteksi antibody yang dapat mengaktifkan komplemen. Imunoglobulin yang dapat diaktifkan adalah IgM dan IgG.15

Meskipun CFT mempunyai sensitifitas dan spesifisitas yang tinggi , namun positif palsu dapat terjadi karena vaksinasi S19 dan S45. Hasil negatif palsu dikarenakan adanya reaksi anti komplementer  dan  prozon  akibat  adanya  antibodi  IgG2  terhadap  bakteri  Brucella  yang memblokir IgG1 dan IgM pada infeksi kronis yang dapat dicegah dengan pengenceran ganda. Kejadian negatif palsu sering ditemukan dari pemeriksaan pada sampel populasi dengan prevalensi yang tinggi.16 Hasil pemeriksaan serologic pada IgG2 dan IgGA biasanya mempunyai

sensitifitas lebih rendah sehingga deteksi terbaik dapat dilakukan pada IgG1.17

Metode CFT direkomendasikan oleh OIE sebagai metode untuk deteksi infeksi Brucella dalam perdaganagan internasionl. Metode ini merupakan metode yang akurat jika dilakukan secara benar meskipun lebih kompleks dibandingkan dengan metode TBT karena membutuhkan fasilitas laboratorium untuk pemeriksaan serta tenaga yang terlatih untuk mempertahankan titer bahan pemeriksaan yang digunakan.15  Penggunaan metode CFT untuk pemeriksaan brucellosis

banyak dilakukan untuk program pemberantasan di banyak negara sebagai uji definitif.18

 

Pemeriksaan rutin terhadap brucellosis yang dilakukan di karantina hewan dilakukan dengan metode RBT atau Elisa dan dilanjutkan dengan CFT. Pemeriksaan secara serial ini kan meningkatkan spesifisitas uji. Keakuratan sensitifitas dan spesifisitas suatu metode yang digunakan merupakan hal yang sangat penting untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yan sesuai dengan kondisi yang sesungguhnhya.19  Pemeriksaan dengan metode RBT dan CFT terhadap hewan yang dimasukkan dari daerah endemis brucellosis yang tidak diberikan vaksinasi memungkinkan akan meloloskan negatif palsu karena metode yang kurang sensitif karena tidak mampu mendeteksi adanya infeksi dini.15,20

KESIMPULAN

Setelah melalui proses karantina selama, sebanyak 200 ekor sapi perah impor milik PT Agrijaya Prima Sukses dalam kondisi sehat dan dapat dibebaskan. Pengawasan dan pemeriksaan bibit sapi perah impor terhadap brucellosis sangat penting untuk dilakukan dalam rangka mengantisipasi kemungkinan masuk dan tersebarnya penyakit tersebut dari luar negeri. Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina Hewan di pintu-pintu masuk harus melakukan pengawasan, pemeriksaan dan tindakan karantina terhadap lalu lintas hewan dan produk olahannya yang dapat berperan sebagai sumber penularan zoonosis.

DAFTAR RUJUKAN

  1. Novita R.  Perencanaan  Surveilans  Brucellosis  pada  Manusia  di  Jawa  Barat  dengan

Menggunakan Metode Geographical Information System (GIS). Jurnal Biotek Medisiana

Indonesia. 2014; 3(1):1-10.

  1. Kartini D,  Noor  SM,  Pasaribu  FH.  Deteksi  Brucellosis  pada  babi  secara  seologis  dan molekuler di rumah potong hewan kapuk, Jakarta dan Ciroyom Bandung. Acta Veterinaria Indonesia. 2017; 5(2): 66-73.
  2. Deteksi spesies brucella pada kambing di rumah potong hewan Jakarta. Mujiatun, Soejoeno

RD, Sudarnika E, Noor SM. JSV. 2016; 34(2): 172-181.

  1. Ahmetagic S. Brucellosis in children in Bosnia and Herzegovina in the period 2000-2013.

Medicinski Glasnik. 2015; 12(2): 177-182.

  1. Novita R, Hananto M, Sembiring MM, Noor SM, Sariadji K, Lilian, Khariri. Seroprevalensi Dan Ancaman Brucella Abortus Pada Pekerja Peternakan Sapi Perah Kecamatan Cilawu, Garut. Jurnal Kesehatan Reproduksi Jurnal. 2016; 7(3): 211-216.
  2. Hull NC,  Schumaker  BA.  Comparisons  of brucellosis between  human  and  veterinary medicine.   Infect   Ecol   Epidemiol.   2018;   8(1):   1-12.   Lemnouer   A, Frikh   M, Maleb A, Ahizoune  A, Bourazza  A, Elouennass  M.  Brucellosis:  A  cause  of  meningitis  not  to neglect. 2017; 4(10): 97-99.

 

  1. Hariyadi P. Pengembangan Industri Pangan Sebagai Strategi Diversifikasi dan Peningkatan Daya Saing Produk Pangan. Prosiding Seminar Nasional Sains Dan Teknologi 2014, Denpasar: 18-19 September 2014. 2014: 8-17.
  2. Sanny L. Analisis Industri Pengolahan Susu Di Indonesia. Binus Business Review. 2011;

2(1): 81-87.

  1. Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno Hatta. Laporan Kinerja Balai Besar Karantina

Pertanian Soekarno Hatta. 2016.

  1. Badan Karantina Pertanian. Laporan Tahunan Badan Karantina Pertanian. 2016.
  2. Kartini D, Noor  SM,  Pasaribu  FH.Deteksi  Brucellosis  pada  Babi  secara  Serologis  dan Molekuler di Rumah Potong Hewan Kapuk, Jakarta dan Ciroyom, Bandung. Acta Veterinaria Indonesia. 2017; 5(2): 66-73.
  3. Azzahrawani A, Martalina E, Herman S, Adillah A.Investigasi Outbreak Bovine Bruselosis di Pulau Bengkalis Tahun 2018. Proc. of the 20th FAVA CONGRESS & The 15th KIVNAS PDHI, Bali Nov 1-3, 2018. 390-392.
  4. Astarina DK, Pribadi ES, Pasaribu FH. Penggunaan Imunostik sebagai Uji Serologi untuk

Deteksi Brucella abortus pada Sapi. Jurnal Veteriner. 2018; 19(2): 169-176.

  1. Gholib dan Ahmad.  Cendawan  Penyebab  Abortus  Dalam  Alat  Reproduksi  Sapi  Betina.

Berita Biologi. 2013; 12(2): 197-201.

  1. Mujiatun, Soejoedono RD, Sudarnika E, Noor SM. Deteksi Spesies Brucella pada Kambing di Rumah Potong Hewan Jakarta. Jurnal Sain Veteriner. 2016; 34(2): 172-181.
  2. Muslimin L, Bangsawan AT, Utami S. Brucellosis Identification On Farmers In Pinrang

District. Nusantara Medical Science Journal. 2017; 2(1): 33-37.

  1. Mathias LA, Paulin L, Vicente  AF, Cortez  A, et  al.  Performance  of  microbiological, serological, molecular, and modified seminal plasma methods in the diagnosis of Brucella abortus in semen and serum of bovine bulls. Biological. 2017; 48: 6-9.
  2. Gorsich EE, Bengis RG, Ezenwa VO, Jolles AE. Evaluation of the sensitivity and specificity of an enzyme-linked  immunosorbent  assay  for  diagnosing brucellosis in  African  buffalo (Syncerus caffer). J Wildl Dis. 2015; 51(1): 9-18.
  3. Ridoutt C, Lee A, Moloney B, Massey P, Charman N, Jordan D. Detection of brucellosis and leptospirosis in feral pigs in New South Wales. Aust Vet J. 2014; 92(9): 343-347.
  4. Tittarelli M, Atzeni M, Calistri P, Di Giannatale E, Ferri N, Marchi E, et al. A diagnostic protocol to identify water buffaloes (Bubalus bubalis) vaccinated with Brucella abortus strain RB51 vaccine. Vet Ital. 2015; 51(2): 99-105.